Self-discovery About My Identity

بسم الله الرحمن الرحيم


Belakangan ini ada postingan temen ssgku tentang jati diri alias identitas diri. Maksudnya jati diri sebagai diri sendiri, bukan sebagai anak, atau mantu, atau istri atau ibu, tapi sebagai namaku sendiri. Pemikiranku jadi melayang jauh dan ingin rasanya menata ulang identitas diri.

Ternyata identitas ini juga berkaitan dengan nasihat ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, tentang bagaimana kita mengelola waktu dengan maksimal agar produktif, agar diisi dengan ketaatan dan makna. Karena jika kita tidak merencanakan, memaksakan dan berkomitmen untuk mengisi waktu-waktu tersebut maka waktu kita dalam berumah tangga akan menjadi tanpa ladang pahala, tanpa mendapatkan ampunan bahkan keberkahan. Kesimpulanku, keberkahan yang begitu agung itu adalah goal yang tertinggi dan harus dikejar dengan rencana, dengan strategi dan pengelolaan waktu yang matang. Sedangkan 5-10 tahun sebelumnya, aku sama sekali tidak menata itu semua, tidak berkomitmen untuk mengejar taat, mengejar mimpi, menata diri, menggali potensi diri hingga membangun personal branding dari tahun ketahun.

Aku akhirnya menyadari dengan sadar, bahwa tahun-tahunku sebelumnya aku lebih berfokus pada rasa SAKITku karena diperlakukan tidak baik, tidak adil, tertekan dengan semua tuntutan sebagai ibu yang sebenarnya tidak perlu aku fokuskan dan tidak perlu aku stres karenanya.

Ternyata aku tidak memiliki manajemen stres, tidak punya tujuan hidup yang jelas dan tegas, tidak punya kebiasaan belajar sehingga usiaku yang berharga hanya berfokus pada rasa sakit, rasa ingin bebas, rasa ingin terlepas dari semua hal yang mengaturku tanpa memikirkan kepentinganku, keinginanku dan kebebasanku. Mereka semua adalah faktor external yang seharusnya tidak membuatku goyah tentang makna diriku. Mereka semua mengecilkan aku, menekanku seolah aku adalah nothing, seolah yang aku lakukan itu buruk, jelek dan salah. Kenyataannya aku adalah diriku dalam timeline belajarku, belajar segala hal dalam dunia dewasa sembari mengasuh, yang ternyata mengasuh itu pun sangat melelahkan, menjemukkan karena aku kurang memaknai peran sebagai Madrasatul Ula (madrasah pertama dalam keluarga).

Tekanan dan tuntutan yang sangat duniawi itu, melupakan aku peran mulia sebagai madrasatul ula, pilar utama dalam peradaban, pendidikan dan dakwah islam. Aku lupa hal itu, aku lupa mendidik diriku sendiri agar pantas menjadi madrasah pertama bagi anak-anakku, aku terlalu fokus pada rasa sakitku, kekecewaanku, dan kesedihanku diperlakukan buruk, dihina ini itu. Padahal kini aku sadari, mereka itu memang keluargaku, namun mereka tidak pantas memperlakukanku seperti itu, menjelekanku dan mengatur aturan-aturan rumah tanggaku yang sepantasnya hanya aku dan suamiku yang mengelolanya, bukan mereka. 

Kini di usiaku 36 tahun ini, aku sadar betapa pentingnya menentukan jati diri, tujuan hidup dan aturan (boundaries) dari manusia-manusia toksik diluar sana. Karena racun yang mereka berikan padaku, aku sadar bahwa mungkin saja mereka bermasalah dengan dirinya sendiri, sehingga banyak waktu untuk mengurusi kehidupan orang lain, menilainya, mengkritisinya bahkan ingin mengaturnya sedemikian dalam. 

Dokter Gia mengatakan bahwa sebuah kehidupan itu istimewa, jangan sampai disia-siakan karena perkataan orang lain yang buruk tentang diri kita. Jangan sampai racun yang ditebarkan orang-orang itu, menghancurkan atau menggerogoti dirimu. Alhamdulillah menyadari sampai titik ini, karena sebelumnya pernah terlintas dalam benakku sampai pada 'apa peranku di dunia ini' sehingga sampai pada titik merasa tidak berharga, merasa tidak memiliki peran apa-apa, merasa tidak menjadi bagian dari apapun, bahkan berfikir untuk menghilang saja karena kesedihan teramat sangat. Namun ternyata setiap 'rasa tidak berharga' itu datangnya dari syaitan, kesedihan bisa menjadi pintu masuk syaitan menggoda kita untuk kufur kepada nikmat Allah, untuk berfikir yang tidak-tidak tentang mengakhiri hidup. 

Keluarga yang terlalu intervensi kepada hubungan suami istri sebenarnya tidak sadar, bahwa keterlibatan mereka bisa membuat masalah rumah tangga semakin runyam, keinginan mereka mungkin saja baik, namun keterlibatan yang berlebihan bisa menghancurkan bonding antara pasangan yang seharusnya hanya pasangan saja yang tau, yang terlibat, bukan mereka-mereka itu.

Pernah sampai di titik dimana rasanya kehidupan berumah tangga itu rasanya memuakkan, melelahkan dan menyesakkan sampai ingin berhenti, ingin keluar dari belenggu yang menyesakkan tersebut. Namun semua itu terjadi karena komunikasi kami buruk, pengelolaan emosi dan ego kami berdua kacau dan harus segera dibenahi, harus terjadi komunikasi yang serius dan dalam tentang cara pandang kami berdua dan mensinkronisasikan kedua kepala ini yang sama-sama keras. Mungkin orang-orang external tidak tau tentang strungglingnya kami dalam berkomunikasi, mereka taunya kami baik-baik saja, padahal tiap hari berdebat, bertengkar, beradu argumen, merasa paling korban, merasa paling berjasa dan lain sebagainya. Harusnya mereka ini sadar, betapa beratnya menSINRONISASIKAN kedua otak dan hati yang berbeda ini. Janganlah menambah-nambahkan beban kami dengan standar-standar remeh temeh, karena permasalahan yang kami hadapi setiap fase kehidupan itu berat dan  tidakkan dimengerti oleh mereka semua yang tidak mengalami secara langsung.

Setiap keputusan kami merantau, saya dan suami selalu berharap Allah membimbing kami, mendidik kami, memberikan hikmah untuk setiap harinya. Karena sebagai orang dewasa, kami tidak mungkin lagi mengandalkan kedua orang tua, menanyakan orang lain tentang pengambilan keputusan kami berdua. Mereka punya pemikiran berbeda, mereka pun punya keinginan berbeda dan tujuan berbeda dengan kami yang kemungkinan besar akan berseberangan dengan keinginan dan tujuan kami berdua sebagai pasutri. 

Hikmah dalam 11 tahun pernikahan ini bagi saya pribadi adalah pengendalian POLA PIKIR yang positif, FOKUS pada KETAATAN, latih KESABARAN dalam menghadapi ujian dan manusia beracun yang bertebaran diluar sana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

First Blog

Pembantaian Mesir, urusan negara lain. Yakin??

Syukur Untuk Yang Terkecil